Dik2xunix’s


Keujanan terus ke warnet

Ditulis dalam Keseharian oleh dik2xunix di/pada April 17, 2009

Satu garis ditarik oleh bumi, serentak garis lain mengiringi. berbaris renggang dan beberapa tak sampai ke tanah. Menghantam pepohonan, rumah-rumah, dan setiap yang menghalanginya menuju tanah. Sialnya, aku pun ikut terhantam dalam laju kereta mesin roda dua. Kupacu semakin kencang untuk hanya sekedar mendapat perlindungan, meliuk-liuk salip sana salip sini. Aku teringat tak jauh di depan ada sebuah warnet. Tanpa menimbang lebih lama aku bergegas menuju ke sana. Satu belokan dan sampai. Untuk sementara ini aku aman dari hantaman langit sendu yang semakin merapat.

Gw Bingung Kasih Judul

Ditulis dalam Bebas, Catatan Emosi, Seni dan Budaya oleh dik2xunix di/pada November 12, 2008

Gua lihat satu persatu wajah-wajah itu, begitu manis. Senyum tulus tetap muncul dari bibir-bibir itu. Gelak tawa warnai kecerian yang tergambar dalam keseharian mereka. Mereka berkumpul di simpang sebuah jalan. Jalan yang memperlihatkan betapa dalamnya jurang pemisah si angkuh dan sekumpulan si dekil kerdil. Menanti belas kasihan mereka yang berlalu lalang.

Sebut saja Ricky, si kecil lusuh yang menghabiskan waktunya untuk menggetarkan senar-senar gitar demi sesuap nasi . Dan tentu saja tambahan uang jajan untuk sedikit bersenang-senang dalam masa kecilnya. Ada lagi Risa, perempuan mungil dengan rambut terurai tak terurus. Sekujur tubuhnya dekil berdebu. Wajahnya penuh corengan debu yang bercampur keringat lapisi kepolosan hati. Tangannya terjulur menengadah keatas menunggu datangnya recehan dari mereka yang masih punya belas kasihan. Dan yang paling sial, ada Anton, anak lelaki berumur sekitar 7 tahun yang harus bersusah payah memilah-milah sampah mencari sisa-sisa makanan demi untuk mengisi perutnya yang tipis. Kurus badannya begitu mengilukan jika diperhatikan dengan sedikit saja simpati untuknya.

Pemandangan yang sangat “biasa” kita temui di tempat-tempat yang ramai dikunjungi atau ruas-ruas jalan yang padat oleh lalu-lalang pejalan kaki.

So What Gitu…?? Apa pentingnya buat gua?. Gua gak ngerasa rugi dengan keberadaan mereka. Kalau ada orang bilang harus peduli ama nasib orang-orang kaya gitu, menurut gua sih…salah sendiri kagak usaha dengan maksimal. Yang penting anak-anak gua, sampai cucu-cucu gua nantinya gak susah hidupnya. Makanya sekarang yang penting gue berusaha dan gak usah buang waktu mikirin nasib mereka. Gua kudu serius belajar, serius ngasah bakat gw buat bisa jadi orang yang sukses. Pokoknya buat gua mikirin mereka bikin hidup makin susah dinikmati. Orang tua gw dah berusaha keras buat nyari duit, jadi wajar kalo kita sebagai anaknya kudu nikmatin fasilitas yang dikasih mereka, ketimbang harus mikirin mereka. Hidup Cuma sekali dan gua yakin rugi berat kalo lo mesti susah payah mikirin nasib mereka. Mikirin nasib sendiri aja susah, kok malah mikirin nasib orang lain. Saudara bukan, pacar bukan, keponakan juga bukan.

Sahabat, kalimat-kalimat itu terdengar begitu kasar bukan? Ya, memang. Kalimat-kalimat itu tidak akan kita dengar langsung jika kita Tanya satu persatu teman-teman kita. Sungguh, terlalu tidak enak untuk didengar. Pasti bawaannya kita pingin nonjok tu orang yang ngomong kaya begitu dengan lantang. Gua yakin semua orang kalo diingetin lagi tentang hal-hal kaya begini, jawabannya akan persis seperti pelajaran PPKN pas kita masih SD ato SMP. Ya kita mesti peduli dengan nasib mereka. Tolong menolong itu kan sesuatu yang dianjurkan. Dan jawaban-jawaban semodel itu lah.

Sahabat, Gimana kalo kita coba Tanya ama diri kita sendiri. Apakah terlintas keinginan di hati untuk berbuat sesuatu? Atau kah itu sudah terlalu biasa buat kita? Atau kah kalimat-kalimat itu sangat menggambarkan diri kita? Atau kah kita punya jawaban “Nanti”. Nanti saja setelah kita menjadi seseorang yang sukses?

Diam dan tidak berusaha melakukan apa pun berarti kita setuju dengan pernyataan-pernyataan sakit tadi. Hanya saja kita terlalu lemah untuk mengungkapkannya dengan lantang. Kita merasa terlalu suci untuk mengakui bahwa kita memang TIDAK PEDULI.

“Nanti ?”, jawaban itu kah yang menjadi pembelaan bagi kita?

Kawan, adakah manusia yang tiba-tiba saja bisa berjalan tanpa pernah berlatih untuk mampu berjalan dengan baik? Adakah manusia yang tiba-tiba menjadi penuh kasih saying padahal ia dibesarkan dalam kebencian? Adakah manusia yang tiba-tiba rajin menabung tanpa pernah mencoba untuk membiasakannya? Begitu juga dengan sebuah kepedulian, ia tidak dating begitu saja, tapi perlu untuk dilatih dan dibiasakan. Ketika kita tidak pernah mencoba untuk membiasakannya, perlahan-lahan rasa itu akan terkikis dan hilang membias. Apalagi saat ini arus hiburan begitu deras dating menjanjikan berbagai macam segala kesenangan. Kita akan semakin lupa.

Sahabat, apa lo ngerasa terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk mencoba berbuat sesuatu? Kalo maksud lo kesibukan itu berkaitan ama akademik lo, itu cuma alasan basi yang perlu kita pikirin kembali, layakkah kesibukan/focus kita terhadap sesuatu menjadi pembenaaran atas terkikisnya rasa kepedulian itu? Fokus perhatian kita akan terus berganti hingga tua nanti. Setelah masalah akademik, akan dating masalah pekerjaan yang akan jauh lebih menyita waktu kita. Jika kita yakin bahwa kepedulian itu adalah sesuatu yang baik dan perlu untuk direalisasikan, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukan sesuatu.

Sahabat, kita sama-sama tahu bahwa membangun sebuah kebiasaan tidaklah mudah. Diperlukan usaha yang serius untuk membangun sebuah kebiasaan. Karena itu, mari kita bangun kebiasaan itu sedini mungkin. Begitu banyak jalan terbuka untuk membangun sebuah kepedulian. Di sekeliling kita masih banyak mereka yang berkomitmen untuk terus membangun kepedulian. Bergabunglah dan wujudkan kepedulian itu dalam sebuah langkah nyata. Mari kita bahu membahu membangun “Aku yang punya empati, aku yang peduli, dan aku yang berjuang atas sebuah kepedulian“. Untuk hidup yang lebih manusiawi !!!

Ada Yang Kurang

Ditulis dalam Bebas, Catatan Emosi, Seni dan Budaya oleh dik2xunix di/pada November 12, 2008

Tadi malam aku berkumpul bersama kawanku di bangku-bangku depan PSIK. Sore menjelang malam itu kami mendiskusikan  pendidikan. Jalannya diskusi cukup menyenangkan karena satu sama lain aktif memberikan pandangannya. Menjelang berkahirnya diskusi itu, satu sahabatku bercerita tentang keteladanan seorang guru. Cerita yang sangat populer di kalangan pendidik. Dan satu cerita itu sangat menarik perhatianku.

Dikisahkan pada zaman penjajahan belanda, ada seorang guru yang entah siapa namanya -kawanku yang bercerita tidak mengingat nama itu dengan baik- sangat tulus mencintai murid-muridnya. Dalam kesehariannya ia mengajar dengan kasih sayang yang benar-benar dirasakan oleh murid-muridnya. Suatu ketika salah seorang muridnya berbuat keributan di kelas dan mengganggu jalannya belajar. Apa yang dilakukan muridnya sudah cukup keterlalauan. Lalu guru tersebut marah dan memanggil anak itu untuk berdiri di depan dalam kelas tersebut. Guru tersebut meminta anak nakal tersebut untuk membuka bajunya, dan sang guru mencari sebatang kayu. Kini sebatang kayu telah ada di genggaman sang guru, dengan yakin guru tersebut memukulkan batang kayu itu berkali-kali. Sang guru bukan memukul sang anak, melainkan papan tulislah yang Ia pukul. Semua murid terdiam menyaksikan apa yang dilakukan guru tersebut. Guru tersebut hanya ingin menyampaikan pesan. “aku tidak tega memukul mu anakku, aku begitu menyayangimu setulus hatiku dan aku menginginkanmu menjadi anak yang baik. Inilah caraku untuk membuatmu mengerti kalau aku begitu menyayangimu, menyayangi kalian semua.” Semua anak sangat terkejut dan menangis ketika menyaksikan itu semua. Peristiwa itu selalu dikenang dan membuat murid-muridnya mengerti dengan baik akan cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh guru tersebut.

Dikemudian hari setelah zaman itu berlalu, kisah tersebut menjadi populer dikalangan para pendidik. Lalu seorang guru yang sedang menghadapi kenalakan anak didiknya mencoba melakukan hal yang sama seperti kisah tadi. Ia memperlakukan anak didiknya sama persis dengan apa yang dilakukan guru dalam kisah tersebut. Namun ternyata, apa yang benar-benar terjadi jauh dari kisah tersebut. Ruangan kelas itu tidak dipenuhi oleh isak tangis tapi dipenuhi oleh gelak tawa murid-muridnya.

Ternyata ada satu hal yang belum dilakukan oleh guru tersebut. Yaitu benar-benar mengajar muridnya dengan cinta dan kasih sayang.

Cinta dan kasih saying setulus itu amat langka. Dan kita semua merindukannya.

Aku ingin memilikinya.

Sembilan Belas Bulan Enam

Ditulis dalam Catatan Emosi oleh dik2xunix di/pada Juni 22, 2008

Sembilan belas bulan enam, gw ngerasa jadi orang paling useless yang Cuma banyak keinginan tapi seperti orang bingung yang gak tahu harus ngapain. Ingin rasanya gw cerita sama orang yang bisa gw percaya dan cukup bijaksana. Sayangnya saat ini gw gak punya orang kaya gitu.

Akhirnya gw menumpahkan keluh kesah ini lewat tulisan. Gw pingin nangis sebenernya, tapi gw ini cowok!!

Semua kondisi menyudutkan gw. Jelas semua salah gw. Gw gak becus jalanin ni hidup, gw gak becus jadi anak, gw gak becus jadi kaka, ga gak becus jadi adik, gw gak becus jadi temen, gw gak becus jadi mahasiswa, gw gak becus jadi manusia. Semua peranan yang harusnya gw lakuin gagal total. Gw gak berperan apapun dalam setiap tanggung jawab yang gw pikul. Gw udah sah banget dah kalo mo di sebut usless man.

Bingung dan stress itu yang ada di otak gw sekarang. Kalo mati itu rasanya enak, gw mending mati aja dah, kalo mati itu bisa nyelesaian masalah, gw milih ngabisin nyawa gw sekarang. Tapi sayangnya mati itu gak ada yang enak bo, trus gak nyelesain apa-apa selain hidup gw. Gak jadi aja deh mati sekarang, tunggu takdirnye aje.. lagian kayanya bakal bikin suasana tambah runyem.

Parahnya lagi, saat ini, Tuhan tempat gw mengadu lagi gak bisa gw hubungi. Soalnya gw lagi gak punya pulsa plus sinyal buat nelepon ato minimal sms-an ma Dia. Jadi sekarang gw cerita ama siapa ya? Kayanya cerita ama kertas hal terbaik yang bisa gw lakuin. Wahai kertas, mau gak lo denger cerita gw? Apa? Gak mau? Tega deh lo. Lo bikin gw tambah sedih aja. Apa? Gw lebai? Bener-bener tega lu ya,,, hiks 3x…Gw makin gila!!!

Duh lagi-lagi gw pingin nangis, abis pas gw nulis ni tulisan, gw lagi nyetel lagu yang melo abiz, jadi tambah kebawa ma suasana deh. Begini kata lagunya,

Sejenak kusadar haarpku mulai sirna, mengguncang sisi jiwaku, hasratpun meronta merebak dalam Tanya, adilkah dunia bawaku melangkah, tatap cermin diri cari jawab akan Tanya, gelap hampa tiada warna, sudah hapus saja bila raga lelah tuk mencari, adilkah dunia bawaku melangkah…….dst

Tuh kan ntu lagu memang bikin gw tambah sedih aja.

Gw pingin nangis nih biar lega, tapi tetep ga bisa… pingin teriak, malu ama tetangga. Gw pingin tumpahkan emosi. Kalo kata Dian Sastro ni ye.. pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar gaduh mengaduh.Tapi sayangnya gw Cuma punya gelas 2 biji, maklum anak kos. Trus gw males ngebersihinnya soalnya gw lagi ada dikamar, tar ketusuk lagi ama pecahan kacanya.

Duh,duh,duh akhirnya airmata gw jatuh juga, tapi Cuma dalam mimpi…Padahal perasaan gw dah kacau belia begini, dah kaya perang dunia aja, dah gak berbentuk…

Jez,,jez,,jez,,jez,,1000x suara senapan mesin. Dor,,dor,,dor,,suara tembakan laras panjang. Duar,,boom,,duar suara ledakan bom terdengar dimana-mana, akhgggg,,,,oooooow,,,suara jeritan manuisa terdengar menggelegar. Puing-puing bangunan dah jadi pemandangan biasa. Mirip adegan di game-game perang gitu lah macam medal of honour ato call of duty. Sekacau itulah kira-kira

Batin gw lagi jadi medan perang yang lebih dahsyat dari perang dunia dunia. Kacaunya kagak nahan,,,kagak bisa dibayangin deh…

Gw

Sedih,,,Pingin nangis ,,, lebai …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Temaram cahya rembulan kian terang

Di kegelapan yang semakin hitam

Malam ini telah larut

Dalam kesedihan yang berlarut-larut

Dikdik Fazzarudin

The Answer Lies Within

Ditulis dalam Seni dan Budaya oleh dik2xunix di/pada Juni 16, 2008

music by dream theater

Look around
Where do you belong
Don’t be afraid
You’re not the only one

Don’t let the day go by
Don’t let it end
Don’t let a day go by, in doubt
The answer lies within

Life is short
So learn from your mistakes
And stand behind
The choices that you make

Face each day
With both eyes open wide
And try to give
Don’t keep it all inside

Don’t let the day go by
Don’t let it end
Don’t let a day go by, in doubt
The answer lies within

You’ve got the future on your side
You’re gonna be fine now
I know whatever you decide
You’re gonna shine

Don’t let the day go by
Don’t let it end
Don’t let a day go by, in doubt
you’re ready to begin

Don’t let a day go by, in doubt
The answer lies within

The Spirit Carries On

Ditulis dalam Seni dan Budaya oleh dik2xunix di/pada Juni 16, 2008

Music by Dream Theater
Lyrics by John Petrucci

Nicholas:
Where did we come from, when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say, “Life is too short,”
“The here and the now”
And “You’re only given one shot”
But could there be more,
Have I lived before,
Or could this be all that we’ve got?

If I die tomorrow
I’d be all right
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I’m not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I’d be all right
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

Victoria:
“Move on, be brave
Don’t weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear”

Nicholas:
Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again
Victoria’s real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I’m here
It’s perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I’d be all right
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

Setengah

Ditulis dalam Catatan Emosi oleh dik2xunix di/pada Juni 16, 2008

oleh :D ikdik Fazzarudin

Siang ini, di sini…

Matahariku bersinar manja

Berikan hangat yang cukup sederhana

Gemuruh angin berbisik lirih

Sentuhkan sejuk sedikit meragu

Dan biru langit membentang lantang

Citrakan pesona jauh melayang

Siang ini, di sini,

Jiwaku menerawang menembus biru

Anganku terbang bersama gemuruh angin

Dan rasaku tersebar menyusup pijar matahari

Oh jiwa…

………………………………………………………….

……………………………………

……………..

Tak Cukup Puitis

Ditulis dalam Catatan Emosi oleh dik2xunix di/pada Juni 16, 2008

oleh : Dikdik Fazzarudin

Di tengah reruntuhan hasrat kucoba tuk rangkai kata indah

Gambarkan puing-puing episode hidup yang menggemaskan.

Citrakan pudar warna kehidupan.

Amarah ini membuncah tanamkan wibawa.

Membalut keangkuhan dengan dendam tak bertuan.

Remehkan tiap kata suci sang petuah bijaksana.

Gelegar-gelegar emosi hujamkan pesakitan dalam diri.

Membawaku bersembunyi dalam megah istana iblis

Nuraniku tak lagi mampu menembus barikade tentara kenistaan

Terjepit di tengah kebencian

Gelisah di hati penjarakanku dalam sepi.

Meronta-ronta teriakkan kebebasan.

Aku ingin bebas lepas ikrarkan kemana kakiku melangkah.

Menyeruak dalam bimbang

Tepiskan runyam alur keserakahan

Aku manusia hina inginkan kedamaian

Dalam Tanya

Ditulis dalam Catatan Emosi oleh dik2xunix di/pada Juni 16, 2008

dalam tanya

oleh : Dikdik Fazzarudin

Kini aku semakin rapuh tertindas logika. Gemerlap megah dunia menyi mpan berjuta misteri. Misteri yang coba kugali tanpa henti, tapi ia terus berlari. Semakin kuselami, aku tenggelam dalam lautan tak berdasar. Sementara ruas-ruas waktu semakin pendek sisakan seberapa yang tak pernah kutahu.

Sejenak dalam waktunya, kusadar harapku mulai sirna. Terjerat ketidakpastian yang tak pernah lelah menghampiriku. Mata ini tak sejernih ketika tangis pertamaku torehkan senyum untuk ibu. Naluri ini kian keruh tak seperti aku ketika itu. Pikirku tak lagi sesederhana senyumku dalam timang ibunda tercinta. Degup jantungku semakin tak beraturan. Selaras dengan hidupku yang kian tak menentu.

Dunia terus berputar tanpa lelah, sementara aku sudah merasakan lelah yang luar biasa. Aku terus menjauh dari apa yang kuimpikan.Atau masihkah aku punya impian? Dalam Tanya kucoba tuk kembali bermimpi, meski sepertinya aku belum bisa.

Dinding itu cukup tebal dilapisi kawat berduri. Membuatku semakin ragu tuk lepas dari penjara ini. Tak kutemukan celah untuknya. Entah kapan mimpi itu cerahkan gelap hatiku dalam bimbang.Akankah ia dating sebelum semuanya benar-benar menjadi gelap. Aku tak pernah tahu, dan tak ingin tahu.

Meski ia belum berkenan hadir untukku, kakiku tetap kupijakklan diatas mimpi-mimpi. Mimpi mereka yang mengharapkan impianku menjadi nyata, dan mimpi mereka yang kuharap itu menjadi nyata.

Apa Itu Filsafat?

Ditulis dalam Ideologi dan Filsafat oleh dik2xunix di/pada Mei 31, 2008

oleh : Dikdik Fazzarudin

Tulisan ini hanya ditunjukan utnuk pemula, jadi buat yang udah ahli jangan baca ya :p soalnya terlalu sederhana dan singkat. He…

Filsafat secara etimologis (bahasa) berasal dari kata philosophia, kata ini merupakan bahasa Yunani yang terdiri dari kata philein yang artinya mencintai dan Sophia yang artinya kearifan atau kebijaksanaan. Jadi filsafat secara sederhana bias diartikan dengan mencintai kearifan, mencintai kebijaksanaan, dan mencintai kebiakan.

Pengertian Filsafat menurut beberapa ahli berbeda satu sama lainnya. Akan tetapi semuanya merujuk kepada sesuatu yang sama, hanya saja diungkapkan dengan berbeda. Berikut adalah pandangan beberapa filuluf mengenai apa itu filsafat:

Menutur Socrates ,

filsafat adalah suatu bentuk peninjauan diri yang bersifat reflektif atau berupa perenungan terhadap azas-azas dari kehidupan yang adil dan bahgia. Berdasarkan pemikiran tersebut dapat dikembangkan bahwa manusia akan menemukan kebahagiaan dan keadilan jika mereka mampu dan mau melakukan peninajauan diri atau refleksi diri sehingga muncul koreksi terhadap diri secara obyektif

Menurut Plato,

Dalam karya tulisnya “Republik” Plato menegaskan bahwa para filsuf adalah pencinta pandangan tentang kebenaran (vision of truth). Dalam pencarian dan menangkap pengetahuan mengenai ide yang abadi dan tak berubah. Dalam konsepsi Plato filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif atau perekaan terhadap pandangan tentang seluruh kebenaran. Filsafat Plato ini kemudan digolongkan sebagai filsafat spekulatif

Cukup dua saja yang dipaparkan di sini, amat banyak pandangan-pandangan lainnya mengenai filsafat. Yang pasti semuanya tetap memiliki kesamaan dari asal bahasanya itu sendiri.

Berfilsafat berarti berfikir secara kritis, konseptual, radikal (mendalam sampai ke akar-akarnya), kohern (runtut, konsisten, tidak acak), rasional, komparatif (menyeluruh, tidak parsial), universal, spekulatif, sistematis dan bebas (tidak terkekang). Berfilsafat bukanlah perkara istemewa yang sulit dilakukan, karena manusia cenderung untuk berfilsafat dengan kadar yang berbeda-beda.

Berfilsafat sebgai mana kata dasarnya adalah mencintai kebijaksanaan berarti dengan berfilsafat kita mencoba untuk menggapai kebijaksanaan dalam hidup. Yang pasti kejujuran intelektual dan kebebasan berfikir adalah prasyarat mutlak untuk berfilsafat. Karena tanpa keduanya energi kita akan sia-sia. Kita hanya memanipulasi pendapat yang ada untuk sebuah kecenderungan pribadi.

Halaman Berikutnya »